Info Pendidikan News- Kota Bekasi-
“Saya punya prinsip, “Kerja di Barat, Rejeki di Timur”, artinya apa, kita dalam bekerja harus ikhlas. Jangan mengharapkan balas jasa atau imbalan,” kata HM. Ali Fauzie, MPd, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi kepada info pendidikan saat diberi kesempatan berbincang-bincang di ruang kerjanya.(Foto Ali Fauzie bersama Presiden RI Joko Widodo saat ke Muara Gembong)

Kepala Dinas Pendidikan yang akrab dikenal dengan sebutan Ali Uban ini adalah satu dari sedikit kepala dinas pendidikan yang merintis karir dari guru. Rekam jejak karirnya pertama kali mengajar sebagai guru di SMPN 21 Jakarta, lalu ke SMPN 152 Jakarta. Kemudian pindah ke SMPN 200 di Cilincing.

Akhir tahun 90-an, dia kemudian pindah ke Kabupaten Bekasi dan menjadi guru di SMPN 4 Tambun Selatan.Selang beberapa lama, dia hijrah ke Kota Bekasi dan menjadi Kepala Sekolah di SMPN 25 Kota Bekasi, terus dimutasi lagi menjadi Kepala SMPN 4 Kota Bekasi. Selepas dari SMPN 4, pejabat teras kota Bekasi ini, kemudian dipromosikan menjadi Pengawas, dan selanjutnya dia diangkat menjadi Kepala Bidang Bina Program di Dinas Pendidikan Kota Bekasi.Saat menjadi Kepala Bidang Bina Program, ayah 4 anak ini, banyak membuat terobosan dalam dunia pendidikan Kota Bekasi. Dia adalah arsitek penerapan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Online 100 persen. Dari Bidang Bina Program, Ali Uban, dirotasi ke Bidang Pendidikan Menengah, dan kemudian mendapat promosi sebagai Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar).

Tidak lama di Disporbudpar, dia kembali lagi ke dinas pendidikan sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan, dan dipindah lagi menjadi Sekretaris Dinas Pendapatan, sampai akhirnya dia dipromosikan menjadi Staf Ahli, tepat sebulan menjelang usianya genap 58 tahun. Hanya sebentar disana, Mei 2017, Ali Fauzie kembali lagi ke Dinas Pendidikan sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi sampai sekarang.

Sebagai pejabat eselon II-B, tidak sedikitpun merubah karakter putra asli Muara Gembong ini. Dia terkenal ringan tangan untuk menolong orang lain. Dan sesuai penuturannya, dia tidak pernah meminta balas jasa dari siapapun, termasuk orang yang ditolongnya. Selain itu, jebolan IKIP Jakarta ini juga dikenal sebagai seorang pekerja keras.

Dan buah kerja kerasnya, membuatnya dikunjungi langsung oleh Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia. Kunjungan presiden langsung ke kediamannya di Muara Gembong membuat semua mata se-Indonesia tertuju padanya. Ali Fauzie menjadi satu-satunya pejabat daerah yang didatangi presiden RI karena prestasinya menciptakan peternakan ikan dan udang berbasis ekonomi kerakyatan.

Namun, penghargaan luar biasa itu tidak merubah apapun dari karakter seorang Ali Uban. Dia masih tetap bersikap seperti guru yang berpenampilan sederhana dengan senyum lebarnya yang khas.

“Ayah dan Ibu saya bukan pejabat atau pegawai negeri,” ungkap Ali Fauzie, “walaupun ayah saya tokoh di masyarakat namun ayah saya tidak pernah mengenyam pendidikan. Hal serupa juga sama dengan keluarga saya lainnya.

Kami di Muara Gembong, hidup sedehana dan rata-rata tidak berpendidikan.”Sambil menandatangani beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya, Ali Fauzie menceritakan bagaimana sulitnya kehidupannya dulu semasa kecil sampai menikah. Dia menggambarkan bahwa di Muara Gembong, asalnya, hanya ada satu sekolah dasar.

Dan itupun, sampai dia kelas 6 SD, muridnya hanya 2 anak. Transportasi disana juga sulit. Warga yang mau pergi dan datang ke desanya harus menggunakan perahu. Belum ada jalan beton ataupun jalan aspal. Sangat memprihatinkan. Tapi keadaan inilah yang memacu tekadnya untuk harus dan terus sekolah.

Selesai dari sekolah dasar, dia melanjutkan pendidikan ke Karawang karena di Muara Gembong saat itu tidak ada sekolah menengah. Diapun lalu melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya ke Serang Banten.

“Meski jauh di perantauan, sy tidak pernah kos, ngontrak atau tinggal di rumah orang ataupun saudara. Saya tidak mau menyusahkan orang lain. Apalagi menyusahkan orang tua. Orang tua saya hanya tahu kalau saya sekolah, tapi sekolah dimana, mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah saya kasih tahu. Selama sekolah di Banten, saya tinggal di sekolah.Tidur di kelas dan mesjid. Sejak itu saya sudah cari uang sendiri, nyuci baju sendiri, masak sendiri. Tiap pulang dari kampung, saya bawa beras dan garam. Di sekolah, garam saya masak dengan cabai. Wuih, udah enak banget tuh,” kata Ali Fauzie bercerita saat-saat dia bersekolah di Banten.

“Walaupun hidup sederhana, saya selalu ditua-kan oleh teman-teman dan selalu jadi ketua. Saya juga aktif di organisasi siswa. Jadi sejak remaja saya sudah aktif berorganisasi,” lanjut Ali.

“Kebiasaan berorganisasi ini juga terus berlanjut sampai saya berkeluarga. Saya selalu aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Dimulai dari tingkat RT, trus RW. Dan sampai sekarang masih jadi Ketua RW. Selain itu juga saya sibuk di beberapa yayasan sosial,” papar Ali.

Setelah mengganti posisi duduknya, Ali Fauzie berpindah topik pembicaraan. Dia mengutarakan bahwa tidak pernah merasa capek dalam bekerja. Itu sudah berlangsung lama sejak dia mulai mengajar. Dia tidak akan pulang sebelum semua siswanya pulang dan guru-guru pulang.

Dan begitu diangkat jadi pejabat, kebiasaan itu juga terus terbawa. Dia tidak pernah pulang lebih dulu dari pimpinan. Saat jadi kepala bidang dan sekretaris, dia tidak akan pulang sebelum kepala dinas pulang. Malah terkadang sampai malam, baru dia pulang.

“Bertugas di Dinas Pendidikan ini adalah yang paling berat dan penuh dengan dinamika,” ungkap Ali, “bila SKPD lain personilnya hanya sekitar seratusan orang. Dinas Pendidikan personilnya sampai 12 ribu. Bisa bayangkan bagaimana beratnya mengurusi 12 ribu orang. Belum lagi permasalahan ribuan siswa mulai dari SD sampai SMP. Terus, bila SKPD lain hanya membuat dan mengurus 1 RKA saja, tapi Dinas Pendidikan membuat dan ngurusin ratusan RKA. Sekarang setiap sekolah membuat RKA masing-masing.

Jadi dalam dinas pendidikan ada ratusan RKA disamping RKA Dinas Pendidikan sendiri.”Dengan bersemangat Ali Fauzie menggambarkan bagaimana beratnya menjadi Kepala Dinas Pendidikan yang dituntut untuk dapat mengatasi semua permasalahan baik permasalahan dinas atau permasalahan sekolah. Tapi sampai saat ini dia tidak pernah merasa putus asa. Bahkan 2 tahun ini, tingkat serapan dinas pendidikan menjadi yang terbaik.“Kuncinya cuma satu. Tetaplah berpikir positif, jangan pernah menyerah. Dan…jangan pernah menuntut imbalan dan balas jasa. Karena rejeki sudah ada yang ngatur. Kita kerja di Barat, Rejeki di Timur,” pungkas HM. Ali Fauzie, MPd.

Tepat pada tanggal 13 April 2019 yang lalu, Ali Fauzie, genap berusia 60 tahun dan di 1 mei 2019 dia tidak bertugas lagi (pensiun) dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau ASN. Kinerja dan pengabdian Ali Fauzie di Dinas Pendidikan Kota Bekasi akan terus di kenang dan diingat. Perbuatan yang baik akan terus dikenang, Selamat Ulang Tahun yang ke-60 buat, HM Ali Fauzie.■(GP/JOS)