Info Pendidikan News- Kota Bekasi-
Ketika sektor lain sudah berlomba dan melakukan terobosan, sektor pendidikan di Kota Bekasi masih berkutat pada modus-modus lama yang tidak visioner dan tidak produktif.

Orang tua siswa saat menunggu pembagian rapor

Berdalih sebagai sarana komunikasi dengan orang tua siswa mengenai capaian nilai ujian tengah semester, hampir semua SMP Negeri di Kota Bekasi, minggu lalu melakukan pembagian rapor mid semester. Adapun yang tercantum dalam rapor itu adalah hasil penilaian tengah semester (PTS). Berdasarkan ini, sekolah memanggil semua orang tua murid untuk datang langsung ke sekolah.

Kepala Seksi SMP Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Mawardi, mengatakan bahwa yang disampaikan sekolah adalah nilai PTS. Pada saat pembagian rapor bayangan itulah diharapkan terjadi komunikasi antara sekolah dan orang tua dan sekaligus sebagai sarana silaturahmi.

Hal senada juga diucapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Dr. Inayatulah. Inay (panggilan Inayatulah—red), Sabtu (12/10) menjelaskan bahwa orang tua akan mendapat masukan dari guru kelas masing-masing terkait capaian siswa. Keterangan itu juga diperkuat salah satu kepala sekolah favorit di bilangan Bekasi Timur.

Namun, hasil pantauan IP di beberapa sekolah di wilayah kecamatan Mustika Jaya dan Rawa Lumbu, capaian ideal yang disampaikan Dinas Pendidikan terkait pembagian rapor mid semester tidaklah maksimal. Mengingat yang disampaikan sekolah hanyalah sebatas nilai PTS, tapi untuk menerima itu orang tua siswa harus menghabiskan waktu lebih dari setengah hari berada di sekolah. Menunggu nama anaknya dipanggil guru kelas.

Salah satu orang tua siswa kelas 9 SMP Negeri di Rawa Lumbu yang diajak IP berkomunikasi di kantin sekolah mengatakan, sekolah mengundang mereka untuk hadir sebelum jam 8 pagi. Mereka kemudian berkumpul sesuai dengan kelas masing-masing anaknya.

Untuk yang nama anaknya dipanggil pertama sekali sangat beruntung. Hanya bertatap muka kurang dari 10 menit, mereka sudah diperbolehkan pulang sambil membawa selembar amplop berisi kertas hasil nilai PTS anaknya.

“Saya datang sama mamanya anak-anak. Kita sudah sampai disini sekitar jam 7 pagi. Lama juga ya, sampai sekarang mamanya masih nunggu di kelas. Giliran terakhir kali,” ucapnya sambil melihat jam tangan.

Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB. Berarti, orang tua itu sudah menghabiskan waktu 4 jam lebih di sekolah menunggu giliran. Menyedihkan.

Hal yang sama juga ditemukan IP di salah satu SMP Negeri di Mustika Jaya. Salah satu orang tua siswa mengatakan, dia sudah di stand by di sekolah sejak jam 8 pagi. Dan sampai lepas makan siang, dia masih menunggu rapor anaknya diberikan guru kelas.

“Tadi istirahat siang dulu mas. Ini baru mulai lagi. Kayaknya bentar lagi sudah selesai. Karena tadi tinggal sedikit di kelas,” ucapnya orang tua murid itu.

Sebuah kenyataan yang perlu mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan pendidikan di Kota Bekasi. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita sudah berada di jaman baru. Sekolah sebagai bagian dari pendidikan harus menjadi pelopor dalam pembaruan.

Sarana berkomunikasi dengan orang tua murid tidak melulu harus bertatap muka. Apalagi hanya sekedar tatap muka dengan durasi 5 sampai 10 menit. Apa yang bisa disampaikan dalam tempo yang begitu singkat. Pesan moral apa yang bisa disampaikan guru ke orang tua dengan cara seperti itu.

Hasilnya menjadi kalimat-kalimat pengulangan yang terkesan klise dan tidak tepat sasaran. Karena, ada lebih dari 36 siswa, dengan lebih dari 36 karakter kejiwaan dan capaian prestasi. Sebuah jumlah yang besar dan kompleks dan harus disampaikan dalam waktu 5 sampai 10 menit.

Tidak mungkin. Dan bila diperpanjang, maka akan memakan waktu sehari penuh bahkan mungkin lebih, bila guru menyampaikan dengan benar dan lengkap hasil capaian siswa ke masing-masing orang tua.

Memasuki abad 21, Kota Bekasi menyatakan siap menyongsong era industri 4.0. Dimana di era ini, semua diharapkan terkoneksi secara digital. Demikian juga dengan pendidikan. Sekolah, guru dan kepala sekolah, orang tua dan siswa juga semestinya dapat terkoneksi secara digital.

Dapat dipastikan, hampir semua orang tua murid sekarang ini sudah tidak asing dengan telepon pintar (smartphone) berbasis internet, baik itu android maupun iOS.

Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk berkomunikasi antara guru dengan siswa dan orang tua. Terobosan terakhir, dalam menyampaikan hasil capaian siswa di sekolah, guru (sekolah) kini sudah punya yang namanya E-Raport.

Dalam aplikasi ini, mulai dari kegiatan harian siswa, ujian harian, mingguan, mid semester sampai semesteran dan akhir tahun ajaran dapat disampaikan guru langsung ke smartphone orang tua murid. Sehingga, walaupun tidak melihat langsung, orang tua dapat mengetahui capaian anaknya di sekolah dalam kesehariannya.

Tapi dari sekian banyak sekolah di Kota Bekasi, baru satu dua sekolah yang mengaplikasikannya. Itupun masih dikombinasi dengan momen-momen bertatapan langsung seperti pembagian raport mid semester kemarin. Dan selebihnya, 98 persen sekolah masih terpaku pada proses pembelajaran dan cara berkomunikasi abad 19.

Menyikapi ini, Inayatulah mengatakan bahwa Dinas Pendidikan sudah memiliki aplikasi E-Raport dan segera akan diaplikasikan.

“E- Raport sudah ada akan segera diterapkan di disdik kota, walaupun sebagian sudah ada menggunakannya. Makasih Masukannya,” kata Inay.■ GP-IP2