Info Pendidikan News- Kota Bekasi-
Saat ini menjadi sebuah pemandangan yang biasa, ketika memasuki sebuah sekolah negeri di Kota Bekasi, kita akan disambut dengan sebuah kalimat “Welcome to SMP Anu”.

Kalimat welcome to ini seakan menjadi sebuah kalimat wajib yang terpampang di hampir semua sekolah. Entah siapa yang memulainya. Seakan sebuah wabah sampar yang menular tanpa kendali.

Salah satu SMP Negeri bahkan memugar gapura sekolah dan menyisipkan kalimat Welcome to. Menggelikan.

Sekilas, tampaknya hal ini tidak menjadi masalah, namun sebenarnya merupakan sebuah kekeliruan besar. Bagaimana sekolah yang menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter bangsa menyambut tamu yang datang dengan bahasa asing. Apakah mereka menganggap bahwa tamu yang datang tidak mengerti bahasa Indonesia sehingga harus menyambutnya dengan bahasa asing? Atau hanya untuk terlihat keren dan maju, tapi mempermalukan diri sendiri. Kontradiktif dengan visi sekolah.

Mengingat Kota Bekasi adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat, kalau hanya ingin terlihat beda, bisa mengganti kata Selamat Datang dengan Wilujeng Sumping, karena Bahasa Betawi untuk Selamat Datang ya masih Selamat Datang, tanpa perubahan.

Salah satu kepala SMP Negeri di kota Bekasi ketika dipertanyakan apa dasar penggunaan kata Welcome to di gapura sekolahnya mengatakan bahwa hal itu terlintas begitu saja, tidak ada tendensi apa-apa.

“Awalnya memang kita mau tuliskan kata Selamat Datang, tapi hurufnya kebanyakan. Jadi, kita cari alternatif lain, dan terpikirnya ya kata itu, Welcome To. Sederhana itu saja,” ungkap kepala sekolah itu.

Hal senada juga diutarakan beberapa kepala sekolah. Bahwa pemakaian kata Welcome to, tanpa tendensi apa-apa. Jawaban-jawaban ini membuat kinerja mereka semakin terlihat tanpa perencanaan.

Bagaimana huruf-huruf yang terpatri dengan kuat, bahkan beberapa sekolah, menggunakan bahan dari stainless steel, tanpa direncanakan matang dengan memperhitungkan analisa risikonya.

Disatu sisi sekolah menuntut semua pihak yang ada di sekolah, mulai dari siswa, guru, dan staf menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Dan sekarang pemerintah kota Bekasi bahkan mewajibkan pemakaian batik Bekasi sebagai bentuk memasyarakatkan dan memelihara budaya daerah sebagai bagian dari kearifan lokal. Namun, ketika kita memasuki sekolah, kita menjadi tertawa sendiri melihat ulah insan-insan pendidikan itu. ■ GP/IP2