Info Pendidikan News- Kota Bekasi-
“Sejak saya ditugaskan di sini, saya fokuskan pada pendidikan karakter. Jadi, saya sangat concern pada kegiatan-kegiatan pendidikan karakter,” ujar Sujirman, Kepala SMPN 42 Kota Bekasi, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (31/10).

“Kebetulan di sekolah ini,” lanjut Sujirman, “banyak guru yang berstatus ustad (ustaz—red). Sehingga saya pesankan ke mereka, siswa-siswa muslim di SMPN 42 ini selama 3 tahun harus khatam Al-Quran. Beberapa kegiatan kita buat untuk mewujudkannya, diantaranya tadarusan dan yasinan. Menjadi bagian dari program literasi di sekolah.”

“Kedepannya, tidak ada lagi alumni SMPN 42 yang buta Al-Quran. Semua harus melek Quran,” sambung Sujirman.

Selain literasi dan BTQ (baca tulis quran), kata Sujirman, Pramuka juga menjadi sebuah bentuk pendidikan karakter yang sangat penting.

“Dalam Pramuka, siswa dididik untuk mandiri, disiplin, bertanggung jawab, memiliki jiwa patriotisme dan berakhlak serta berbudi pekerti luhur. Ini sejalan dengan visi misi SMPN 42, berkarakter, berbudaya, berprestasi bernuansa iman dan taqwa,” jelas mantan guru olahraga ini dengan santai.

SMP Negeri 42 Kota Bekasi adalah satu dari tiga SMP Negeri di Kecamatan Medan Satria.  Menempati lahan sekitar 3720 m2 di Perumahan Taman Harapan Baru, sekolah ini awalnya adalah unit sekolah baru filial SMP Negeri 19, dan resmi berdiri pada tahun 2017.

Berstatus sebagai sekolah baru, banyak kendala dan keterbatasan, termasuk keterbatasan daya tampung (ruang kelas belajar), sarana dan prasarana, sumberdaya pendidik dan kependidikan. Sehingga pada saat ini, SMP Negeri 42 masih menjalankan kegiatan KBM 2 shif.

“Untuk fokus mengejar prestasi dengan kondisi pembelajaran 2 shif agak sulit. Terutama saat lomba, tidak maksimal. Contohnya Pramuka, karena kondisi yang ada, minggu pertama Kelas 7, minggu kedua Kelas 8, minggu ketiga Kelas 9 dan minggu keempat Pramuka gabungan. Jadi siswa hanya mendapat pendidikan Pramuka sebulan sekali. Sangat tidak maksimal,” ungkap Sujirman.

Selanjutnya, sambil menunggu jadwal rapat internal, Sujirman, kepada IP, menjelaskan dengan rinci program-program sekolah dalam mengawal visi misi sekolah.

“Kebersamaan. Itulah komitmen yang dibangun di SMPN 42. Semua stakeholder, mulai dari kepala sekolah, guru, staf, siswa dan orang tua harus memiliki rasa kebersamaan dalam memajukan sekolah. Saya memberikan motivasi kepada para guru dan staf untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh dedikasi, disiplin dan tanggung jawab. Khusus untuk guru, saya meminta kepada mereka untuk selalu mencari metode atau cara baru dalam pembelajaran yang ramah dan menyenangkan. Harus ada perubahan yang lebih baik dari hari ke hari,” kata Sujirman.

Dalam keseharian, sambung Sujirman, guru wajib datang sebelum siswa. Mereka menyambut siswa di gerbang sekolah dari pukul 06.30 sampai 06.45. Dilanjutkan, sesuai jadwal, dari pukul 06.45, dilakukan tadarus 3 kali seminggu, dikombinasi dengan yasinan dan shalat dhuha.

Untuk kelas 7, karena masuk siang, tadarus 5 kali seminggu. Bagi siswa muslim, sejak awal sudah dites kemampuannya dalam BTQ. Bagi yang masih kurang, diadakan bimbingan khusus belajar baca tulis Al Quran. Kemudian ada program penguatan pendidikan karakter yang bekerja sama dengan pihak TNI. Kegiatan ini bertujuan untuk penguatan religius, dan meningkatkan disiplin, kemandirian, kebersamaan, serta patriotisme.

“Kemudian dalam hal penjaminan mutu,” Sujirman melanjutkan, “…masing-masing guru dan siswa saling menilai dan mengevaluasi. Guru mengevaluasi perkembangan belajar siswa, sebaliknya, siswa juga diberi hak untuk mengevaluasi kinerja gurunya. Baik cara mengajarnya, kedisiplinan akan waktu, maupun tingkat kehadiran dan keberadaannya di kelas.”

Walau terbilang sekolah baru, sambung Jirman (nama pendek Sujirman—red), SMP Negeri 42 terus melakukan pembenahan. Demikian juga dalam ektrakurikuler (ekskul) semakin lengkap. Kini sudah ada 9 ekskul. Selain itu ada juga kegiatan Science Club untuk menunjang prestasi akademik.

“SMPN 42 ini adalah sekolah baru. Saya tidak menutup mata bahwa sarana prasarananya belum memenuhi standar pelayanan minimal. Jadi, peran serta dari semua yang berkepentingan sangat diharapkan agar kemajuan sekolah ini tidak terhenti,” pungkas Sujirman.■(GP-IP2)