Info Pendidikan News-Kota Bekasi-
Terdapat 5 SMP Negeri di Kecamatan Mustika Jaya. SMPN 10, 26, 36, 40 dan 48. Kelima sekolah itu sedang fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tidak terkecuali SMPN 36 Bekasi.

Widodo, Kepala Sekolah SMPN 36 

Sekolah yang terletak di Perumahan Permata Legenda Blok K ini sekarang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Sekolah Pusat Belajar Kegiatan PKB PKP 2019. Kegiatan dari Kementerian ini ditujukan untuk peningkatan kualitas sumberdaya pendidik dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran di sekolah.

“Kegiatan PKP ini sejalan dengan visi yang saya bawa saat bertugas disini, peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia),” kata Widodo, Kepala SMPN 36 Kota Bekasi, saat ditemui di ruang kerjanya, mengawali pembicaraan, “…dalam meningkatkan kualitas pendidikan, yang pertama harus ditingkatkan itu adalah kualitas pendidiknya (guru), dimana guru harus disiplin, terorganisir, tupoksinya berjalan dan memiliki skill dalam mengajar.”

Beberapa kegiatan telah kami lakukan dalam rangka tujuan tersebut,” ungkap mantan guru SMPN 7 Kota Bekasi ini, Senin (4/11), sesaat sebelum acara rapat internal dewan guru.

Widodo kemudian memaparkan beberapa program yang telah dilaksanakan sekolah terkait peningkatan kualitas SDM, baik guru maupun staf di sekolah. “Program pertama yang kita laksanakan adalah Workshop STEM atau Science Technology Engineering and Mathematics,” papar Widodo.

Workshop STEM ini, kata Widodo, dibuat untuk mengenalkan kepada para guru di SMPN 36 bagaimana membuat pembelajaran aktif dan kohesif dengan menggabungkan keempat aspek, Science-Technology-Engineering-Mathematics dalam menyelesaikan masalah.

Dalam pembelajaran STEM, pendidik dituntut membuat sistem pembelajaran yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Seluruh aspek ini dapat membuat pengetahuan menjadi lebih bermakna jika diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STEM, secara langsung memberikan latihan kepada siswa untuk dapat mengintegrasikan masing-masing aspek sekaligus.

“Untuk Workshop STEM, tidak main-main loh. Narasumbernya saya undang dari SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) Innotech. Namun memang, dalam pengimplementasiannya tidaklah mudah. Banyak keterbatasan, budaya dan latar belakang masing-masing guru berbeda,” sambung Widodo.

Setelah STEM, sambung Widodo, SMPN 36 kemudian melaksanakan Workshop Pembelajaran 4.0 Menghadapi Abad 21. Di kegiatan ini, dia mengundang ahli Anthropology sebagai narasumber.
Disini, ujarnya, disajikan bagaimana seharusnya guru menyikapi perkembangan teknologi cyber sekarang ini, termasuk digitalisasi, namun tetap mengedepankan karakter.

Dalam pembelajaran 4.0, semua yang peduli pendidikan terutama guru harus kreatif menghadapi tantangan digitalisasi. Karena dalam menerima teknologi, kita harus bijak, dan guru dituntut untuk dapat mengintegrasikan teknologi cyber ke dalam pembelajaran.

“Sejauh ini, guru-guru mendukung semua program sekolah, dan progresnya cukup baik. Walau tidak dipungkiri, tidak secepat yang diharapkan, namun sudah lebih baik dari hari ke hari. Semua ada prosesnya kan. Apalagi terkait pemanfaatan teknologi, kita dalam pelaksanaan ujian sudah menggunakan komputer (computer base test),” katanya.

Untuk 4 pelajaran utama, IPA, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sejak awal semester ini sudah menggunakan komputer. Tapi, lanjut Widodo, tidak menutup kemungkinan teman-teman guru mata pelajaran lain untuk melaksanakan hal yang sama.
Dalam ujian berbasis komputer, jelas Widodo, guru membuat soal, menginputnya ke komputer, kemudian diacak oleh aplikasi mengacak soal. Selesai mengerjakan soal, siswa tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui hasil ujiannya. Komputer akan segera menampilkan nilai ujiannya dan sekaligus dengan pembahasannya.

Widodo, lulusan S2 dari Universitas Indonesia ini juga mengatakan bahwa baru di SMPN 36 Kota Bekasi ini ada perjanjian antara siswa dengan sekolah disaksikan oleh orang tua. Namanya Kontrak Nilai.
Kontrak Nilai ini dimaksudkan untuk memotivasi siswa. Siswa disajikan sebuah kontrak, diketahui guru dan orang tua. Dalam form kontrak itu, siswa diminta menuliskan berapa nilai UN mereka nanti. Nilai ini menjadi perjanjian atau kesepakatan bersama dalam mewujudkannya.

“Bisa saja siswa menuliskan nilai 100. Tapi untuk itu kan dia harus komitmen dan konsisten. Karena dia sudah buat kontrak, bukan saja menjadi tanggung jawab sekolah semata tapi juga menjadi tanggung jawabnya secara pribadi, diketahui orang tua, dalam mewujudkan nilai tersebut,” ucap Widodo.

Dan untuk proses pembiasaan sebagai bagian pendidikan karakter, sambung Widodo, sekolah memasyarakatkan program 5S, kegiatan tadarusan dilanjutkan shalat Dhuha, lalu ada juga pembacaan ayat-ayat pendek Al Quran. Dan untuk siswa non muslim, diberikan sebuah tempat untuk juga beribadah saat teman-temannya yang muslim sedang beribadah.

“Jadi sama-sama. Saat siswa muslim sedang shalat dhuha dan tadarusan, siswa non muslim juga melakukan ibadah,” ungkap Widodo.

Sekarang juga ada program Literasi di SMPN 36. Dilaksanakan sebulan sekali. Bentuknya berupa review buku, dan dilombakan. Penilainya Guru Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Saat kegiatan literasi, siswa memilih buku, dan kemudian menyajikan resumenya dalam bahasa Indonesia, atau bahasa Inggris.

“Jadi dengan adanya PKP saat ini. Komitmen sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia semakin lebih baik,” pungkas Widodo.■(GP-IP2)