Bekasi, Info Pendidikan
Dimotori para pengurus OSIS, siswa SMPN 9 Kota Bekasi, pasca bencana banjir yang melanda hampir sebagian besar wilayah Kota Bekasi awal tahun 2020 ini, menggelar bakti sosial menggalang bantuan bagi teman-teman dan guru-guru mereka yang terlanda bencana.

Sekitar 250 siswa dan 25 guru, terkena musibah banjir. Bahkan, sampai berita ini diturunkan, banyak dari mereka yang masih menginap di pengungsian. Ada yang mengungsi di tempat pengungsian umum, dan ada yang mengungsi ke rumah kerabat.

Gemintang Jannah, Ketua OSIS SMPN 9 Kota Bekasi, sekaligus inisiator aksi didampingi beberapa pengurus OSIS, menjadi tokoh sentral dalam penggalangan bakti sosial ini. Kepada IP, Gemintang mengungkapkan, selain bantuan yang digalang dari para siswa, orang tua siswa, aksi mereka ini juga mendapat dukungan penuh dari guru-guru, kepala sekolah, koperasi dan komite.

SMPN 9 Kota Bekasi, terletak di Kecamatan Jatiasih. Kecamatan ini, dan beberapa lokasi sekitar sekolah, tercatat sebagai daerah yang mengalami bencana terburuk. Beberapa perumahan seperti Kemang Pratama, Kemang IFI Graha, Villa Nusa Indah II, Pondok Gede Permai, Puri Nusa Phala, Pondok Mitra Lestari, terkena banjir dengan ketinggian 4 sampai 6 meter. Dan banyak siswa SMPN 9 yang berasal dari perumahan-perumahan itu.

“Awalnya, pada tanggal 1-nya, kita mendengar sekolah kita kebanjiran, dan ada beberapa teman yang rumahnya kena banjir,” kata Gemintang, “…terus, kita-kita saling kirim informasi melalui grup pengurus OSIS di WA. Akhirnya kita dapat gambaran, ternyata banyak teman-teman kita yang rumahnya diterjang banjir. Bahkan ada yang terendam sampai atap rumah.”

Setelah saling kirim informasi, pengurus OSIS, lalu membagikan pengumuman melalui Instagram SMPN 9. Mereka bersepakat untuk mengumpulkan donasi bagi teman-teman mereka yang terkena musibah.

Keesokan harinya, hampir semua pengurus OSIS berkumpul di sekolah. Beberapa orang tidak dapat hadir karena masih liburan, dan beberapa orang karena juga mengalami musibah yang sama. Di sekolah, para pengurus OSIS itu lalu berkoordinasi dengan guru-guru, menyampaikan niat mereka untuk mengadakan aksi penggalangan donasi bagi teman-teman dan guru yang mengalami musibah.

Ternyata, niat spontan para pengurus OSIS ini mendapat respon yang baik dari pihak sekolah. Berkat kolaborasi sekolah dan pengurus OSIS, diperolehlah data jumlah korban banjir sebanyak 250 siswa dan 25 guru.

Selain mendapat respon dari guru-guru, aksi sosial ini juga mendapat respon dan dukungan dari para orang tua siswa, komite dan koperasi sekolah. Dan, mulai hari Jumat, berbagai bentuk bantuan mulai berdatangan ke sekolah, dan dikumpulkan oleh OSIS.

Bantuan yang datang, selain dalam bentuk uang, OSIS juga menerima bantuan berupa makanan, pakaian layak pakai, dan perlengkapan sekolah. Sedangkan koperasi sekolah memberikan bantuan berupa seragam sekolah dan alat tulis bagi siswa yang alat tulis dan seragamnya rusak atau hilang tertelan banjir.

Donasi mulai disalurkan pada Selasa. Ada yang diambil sendiri oleh siswa, dan ada juga yang dikirimkan langsung oleh OSIS ke lokasi yang bisa terjangkau oleh mereka. Dan sampai Rabu kemarin, dari 250 paket bantuan untuk 250 siswa yang terdata mengalami banjir, baru sekitar 130-an yang tersalur. Masih tersisa 120 paket yang belum tersalur karena beberapa alasan.

“Kita punya target sampai hari Jumat, semua bantuan ini harus sudah tersalur ke teman-teman yang terkena musibah,” ujar Gemintang, Rabu (8/1) di ruang rapat guru, yang untuk sementara dijadikan Posko Aksi Sosial Siswa SMPN 9.

Dwi Kusdinar, Kepala SMPN 9 Kota Bekasi, kepada IP mengungkapkan bahwa aksi sosial ini adalah aksi spontanitas dari siswa. Aksi ini didasari pada rasa empati mereka akan bencana yang menimpa teman-teman mereka.

“Saya sangat mengapresiasi niat baik mereka. Aksi bakti sosial ini adalah kegiatan yang dapat menumbuhkan dan memelihara rasa kepedulian ketika melihat orang lain terkena musibah. Para orang tua murid, melalui komite, melakukan penggalangan dana yang diperuntukan bagi korban banjir. Demikian pula siswa, begitu besar rasa kepeduliannya terhadap rekan-rekannya yang terkena musibah banjir.

Disamping orangtua siswa dan para siswa, tidak mau kalah, para gurunya juga ingin berbagi meringankan beban orang tua siswa yaitu dengan memberikan sumbangan satu stel pakaian seragam bagi para siswa yang tidak lagi memiliki pakaian seragamnya karena hanyut terbawa banjir,” ungkap Dwi.

Dwi kemudian melanjutkan, bahwa aksi ini sangat membanggakannya. Karena semua kegiatan bakti sosial ini dilakukan secara spontan.

“Saya melihat bahwa sikap peduli terhadap sesama yang tertimpa musibah, ternyata tumbuh subur di lingkungan SMPN 9. Baik siswa, guru dan orang tua murid di SMPN 9 ini ternyata memiliki jiwa sosial yang tinggi. Makanya saya katakan tadi bahwa baksos ini adalah untuk menumbuhkan dan memelihara rasa kepedulian,” ungkapnya terharu.■(GP-IP2)