Bekasi, Info Pendidikan
Menindak lanjuti serta sejalan dengan semangat Pemerintah Kota Bekasi dan Dinas Pendidikan Kota Bekasi dalam hal peningkatan kualitas pelayanan publik bidang pendidikan, SMPN 9 Kota Bekasi, yang berlokasi di Jatiasih, atas inisiasi Kepala SMPN 9, Dwi Kusdinar, membagikan kuesioner kepada siswa.

 

Kuesioner ini, kata Dwi Kusdinar, merupakan itikad sekolah dalam upaya meningkatkan layanan pendidikannya. Dan, kuesioner ini dirancang untuk mengukur sejauh mana tingkat kepuasan murid maupun wali murid merasakan pelayanan pendidikan yang dilaksanakan sekolah.

“Kuesioner tersebut dirancang untuk mengukur sejauh mana sekolah telah memberikan pelayanan terbaiknya. Kuesioner ini juga dipublish sekolah melalui web sekolah, smpn9kotabekasi.sch. id,” kata Dwi, Rabu (5/2).

Lanjut Dwi menambahkan, “Dengan mempublish kuesioner melalui web sekolah diharapkan orang tua siswa pun turut membaca dan memberikan masukannya melalui pengisian kuesioner ini, sehingga sekolah menjadi mawas diri karena  mendapatkan feedback dari masyarakat khususnya para peserta didik.”

Dwi mewakili sekolah yang dipimpinnya berharap, dengan feedback dari siswa, orang tua dan masyarakat, mereka dapat memperbaiki kinerja sekolah, utamanya dalam hal layanan pendidikan.

Penyebaran kuesioner ini, tambah Dwi, sekaligus juga sebagai penanda launching web sekolah. Selain kuesioner tentang peningkatan kualitas layanan pendidikan di SMP 9, siswa dan guru juga sekarang bisa mengakses web untuk kepentingan pembelajaran.

Pemanfaatan web sekolah merupakan upaya mengajak seluruh siswa dalam pemanfaatan teknologi informasi.

“SMPN 9 Kota Bekasi, pada awal tahun 2020 ini mencanangkan pembelajaran berbasis teknologi informasi,” sambung Dwi.

Kemudian Dwi memaparkan lebih rinci apa-apa saja yang dilakukan sekolah dalam mewujudkan pembelajaran berbasis teknologi informasi di SMPN 9.

Diawali dengan memperbaiki jaringan listrik setiap kelas, berikut sarana pembelajaran pendukung seperti LCD. Demikian juga dengan jaringan internet yang ditingkatkan kapasitasnya. Lalu dilakukan pelatihan guru. Setiap guru diwajibkan mempersiapkan bahan ajar yang berbasis teknologi informasi.

E-learning, dalam website sekolah, disediakan bahan ajar yang bisa diakses oleh siswa.

“Setiap guru dituntut untuk memulai membuat kelas digital melalui aplikasi yang sudah umum dilakukan oleh para guru yang melek IT yaitu Edmodo,” pungkas Dwi Kusdinar. ■(GP-IP2)