Bekasi, Info Pendidikan
Gegap gempitanya hiruk pikuk pemberitaan seputar pendidikan di Kota Bekasi, Yopik Roliyah, Kabid SMP Disdik Kota Bekasi mengutarakan bahwa semua tidak akan terjadi bila para insan di sekolah memahami Wawasan Wiyata Mandala.

Konsep Wawasan Wiyata Mandala pertama tercetus dan tertuang dalam Ketetapan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Nomor 13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984 sebagai sarana ketahanan sekolah.

Wawasan Wiyata Mandala menurut ketetapan itu merupakan konsepsi atau cara pandang bahwa sekolah adalah lingkungan atau kawasan penyelenggaran pendidikan. Dimana untuk memahami itu siswa harus mengikuti proses melalui tiga tahapan. Tahap yang pertama adalah mengetahui, yang kedua adalah mengenal, yang ketiga adalah mencintai.

Seperti yang dikutip IP dari berbagai sumber, tahapan Mengetahui yaitu, siswa atau semua yang berkepentingan di sekolah wajib mengetahui lingkungan fisik sekolah dengan baik. Lingkungan fisik sekolah adalah lingkungan yang dapat diketahui melalui panca indera. Contohnya mengetahui tempat ruang guru di mana. Mengetahui letak perpustakaan di mana. Atau mengetahui fasilitas apa saja yang ada di sekolah.

Sedangkan tahapan Mengenal, adalah tahapan dimana kita harus memahami seluk beluknya. Misalnya setelah mengetahui letak perpustakaan, harus dikenali perpustakaan tersebut. Apa saja yang ada di perpustakaan, dan bagaimana fungsi dan cara memanfaatkan koleksi perpustakaan.

Dan terakhir tahapan Mencintai, dimana semua lingkungan yang ada di sekolah harus dicintai. Misalnya sudah mengenal perpustakaan, perpustakaan tersebut harus dicintai dengan cara dimanfaatkan, dikunjungi, dan dijaga kebersihannya.

Tahap mengetahui, mengenal, dan mencintai juga harus dilakukan terhadap lingkungan sosialnya. Mengetahui guru, mengenal guru, kemudian mencintai guru. Mengetahui namanya siapa, mengenal karakternya bagaimana, dan mencintainya dalam wujud takzim, hormat dan patuh terhadap tugas yang diberikan.

Pemahaman akan wawasan Wiyata Mandala ini, setelah sekian lama, tidak pernah terdengar dan digaungkan oleh insan-insan pendidikan, khususnya di Kota Bekasi. Jadi, untuk mengingatkannya, Yopik Roliyah, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Bekasi, berusaha menyampaikan betapa pentingnya pemahaman akan Wawasan Wiyata Mandala, sebagai bagian dari Pendidikan Karakter.

“Istilah ini memang sudah lama tidak diperdengarkan, walaupun dalam masa-masa MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah), konsep dari Wawasan Wiyata Mandala sudah disosialisasikan kepada siswa baru,” ungkap Yopik, Jumat (22/2).

Sekolah mengemban misi pendidikan, sambung Yopik, oleh karena itu sekolah tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan di luar tujuan pendidikan. Sekolah harus benar-benar menjadi tempat masyarakat belajar di dalamnya. Sesuai dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

“Ada 5 komponen utama yang berinteraksi langsung dengan sekolah,” sambung Yopik, “kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, siswa, dan masyarakat. Kelima komponen inilah yang membentuk Wiyata Mandala.”

Yopik kemudian memaparkan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai pimpinan dalam mewujudkan wiyata mandala. Dia mengatakan bahwa Kepala Sekolah memegang tanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan di lingkungan sekolahnya. Tidak boleh ada yang bertindak sendiri-sendiri tanpa seizin kepala sekolah.

Selain itu, seorang kepala sekolah harus melaksanakan program-program yang telah disusun bersama komite sekolah. Menyelenggarakan musyawarah sekolah yang melibatkan pendidik, siswa, komite sekolah, tokoh masyarakat, dan pihak keamanan setempat. Dan terakhir, kepala sekolah harus menertibkan sekolah melalui peraturan dan tata tertib yang telah disepakati bersama.

Apalagi sekarang, tambah Yopik lagi, bahwa kepala sekolah diberikan keleluasaan penuh dalam merencanakan, dan mengelola Dana BOS. Dia meminta khusus kepada kepala sekolah untuk mengalokasikan Dana BOS mereka untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang berwawasan wiyata mandala.

Yopik juga menegaskan bahwa wawasan wiyata mandala bukan sekedar dibaca atau dihapal. Harus bisa dirasakan oleh semua stakeholder sekolah. Khususnya siswa, harus merasa betah dan nyaman berada di sekolah. Ini juga untuk meminimalisir kenakalan akibat pergaulan di luar sekolah.

“Tidak boleh ada diskriminasi, tidak ada pengkotak-kotakan, lalu tidak ada kekerasan di lingkungan sekolah, baik sesama siswa, sesama guru, ataupun antara guru dengan siswa. Semua menjadi satu kesatuan dalam membentuk wawasan wiyata mandala,” tegas Yopik.■(GP-IP2)